“Orang Terkaya di Dunia” Salim 50 tahun

Sebuah rumah mungil yg berdindingkan bambu yg didalamnya hanya ada sebuah dipan bambu. Di bagian belakangnya hanya ada tungku dari tanah liat. Tanpa ada tempat mandi ataupun wc. Yang ada hanya padusan kecil buat wudlu..

Uang ini saya terima, Namun tolong sampaikan kepada yg lebih berhak lagi masih banyak diluar sana yg lebih membutuhkan daripada saya..

   Terletak disebuah kebun dimana kiri kanan agak jauh dari rumah tetangga. Didalamnya ini di huni oleh pak salim seorang diri tanpa anak dan istri. Hanya bekerja sebagai seorang pekerja buruh macul dg gaji yg tak menentu mungkin hanya cukup untuk makan sehari hari saja..
Sekitar 3 kali saya bersilaturahmi kesini, pertama malam2 hanya di temani nyala obor dari daun kelapa yg udah kering. Disitu kami sempat ngopi, namun saat kami kasih bantuan beliau menolak. Ahirnya saya kelabui itu untuk beli kopi yg kami minum tadi…

 

Tampak belakang

 

Kunjungan kedua kali kunjungan kami, siang hari saat kami mendapat satu amanah uang tunai sebesar rp 1.000.000 dari sahabat saat kami sampaikan beliau juga menolak saat itu saya hanya tunjukkan amplopnya tak tunjuk kan nilai nominalnya.. lantas saya buka amplop dan saya hitung didepan beliau satu juta nominal yg ada. Namun beliau tetap menolak. Saya agak paksa ahirnya untuk menerima. Dan Alhamdulillah diterima, Namun satu lagi yg membuatku terperanjat ketika beliau menggenggam tanganku dan menaruhkan kembali amplop beserta uang itu.. sambil berkata. Uang ini saya terima, Namun tolong sampaikan kepada yg lebih berhak lagi masih banyak diluar sana yg lebih membutuhkan daripada saya..

 

Pak Salim tengah duduk. Foto di ambil tanpa sepengetahuan beliau, karena beliau tidak mau difoto

Kejadian itu sempat membuatku menangis haru mesti dalam kondisi yg bila dilihat dari luar begitu susah namun jiwa pak salim sangat mensyukuri nikmat. Beliau menjaga maruah dan harga diri beliau, serta mampu menjalani hari dg sabar dan iklas atas ketentuan Illahi Robby… Padahal di zaman sekarang sangat banyak yg memiskinkan diri, demi sebuah nafsu dan ambisi, hilang malu dan nurani.. Sukanya menerima tapi enggan memberi..
Pak Salim padahal gaji beliau dalam satu bulan itu hanya kurang lebih 500.000 rupiah saja. Tapi dg sedikit keinginan dan memperbanyak keimanan beliau mampu hidup dg damai dan nyaman dalam kesederhanaan..
Kunjungan ketiga kami sengaja bersama rekan2 ketempat pak salim untuk sebuah renungan. Sambil membawa bantuan sembako, dihati ini saya pun yakin akan di tolaknya. Namun saya niatkan dihati untuk sebuah renungan kawan2 yg lain tentang makna hidup..
Dan sampai disana ternyata kembali ditolak oleh pak Salim.

Inilah satu kisi kehidupan moga mampu menjadikan satu renungan kususnya untuk diriku sendiri juga kepada pembaca yg lain. Ketentraman hidup itu tidak ditentukan oleh harta benda tahta maupun rupa, tapi oleh jiwa dan hati yg senantiasa iklas sabar syukur jujur tawakal iman dan takwa kepada Allah SWT
Iklas sabar nrimo loman merupakan satu kunci kehidupan yg bahagia.

Ini satu sisi hidup, disisi lain masih banyak juga kebalikan dari kisah pak salim yaitu seorang kaya raya harta namun kehidupannya tidak bahagia… Contoh…

Banyak banget hehehee tuh yg berdasi duduk megah dikursi sambil nikmatin kopi.

Gayanya selangit namun bila malam sendiri selalu mengeluh tentang hidup ini..

Moga satu perjalanan tertanggal minggu,15/05/2016 ini mampu memberikan arti dan manfaat untuk sebuah renungan menuju hidup yg lebih baik dan damai…

Sebuah tawaran naik haji secara gratis pun ditolak dengan ikhlas oleh pak Salim.

Pak salim sebenarnya pernah menikah namun gagal.. Mungkin cara inilah yg dilakukan beliau untuk mencari ketenangan hidup..
Saat aku tanya apakah bpk tak niat menikah lagi,, beliau menjawab iya ingin mas..

Dan saat kutanya apakah bpk punya keinginan naik haji.. dia jawab juga ingin. Namun beliau memberi perumpamaan padaku tentang hidup beliau ibarat buah2an dia tak ingin langsung memetik dan memakan. Namun ingin melalui proses2nya. Kebetulan beliau hoby bertani, walau tak punya kebun atau sawah jadi ia bekerja sebagai buruh cangkul atau buruh rawat tanaman… itu sedikit gambaran tentang pak salim saat saya coba koreksi lebih dalam lagi..

Dan ditempat itu beliau mengaku itu bukan lahan sendiri yg ia dirikan rumah tapi masih milik bersama dg saudaranya. Cuman beliau ga ingin meminta minta. Dia berusaha untuk makan dari usahanya sendiri walau hanya sebatas kuli cangkul..

Pak salim adalah sosok lugu polos yg tak banyak keinginan sehingga mampu menikmati hidup dg tentram walau dimata umum terlihat memprihatinkan…

Sesungguhnya ada niatan membantu pak Salim tanpa harus merendahkan harga dirinya. Membantu dengan membuat dirinya bangga. Sulit memang, siapa tau ada pembaca yang mempunyai usulan. Saat ini terpikir, menyewakan sebidang tanah yang ada bangunan rumah sederhananya.

Sebuah kisah tentang Bpk Salim 50 tahun. Dsn Tawing RT 4 RW 5 Ds Sidorejo Ponggok Blitar..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s